Me and ‘Ajumma’

May 1, 2009 at 5:19 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Author: Dita Ade Susanti

Sedikit cerita tentang the most wanted person in Korea: Ajumma😀

Sebelum berlanjut, siapakah ajumma ini?
Apa itu ajumma?

Ajumma (아줌마), dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “ibu-ibu” dan dalam bahasa inggris diartikan sebagai aunty. Namun jika kita ingin memanggil sang ibu-ibu, bukanlah dengan menyebutnya Ajumma, tapi dapat dilembutkan dengan AJUMEONI (아주머니) atau IMO (이모).
Ajumma di Korea, khususnya di daerahku cukup banyak, selain banyak pula kakek dan nenek :p tapi jangan sangka, para ajumma di sini sangatlah menjaga penampilan dan terpenting adalah berat badan, jadi tidak heran kalau ibu-ibu disini langsing bin slim.😀

Hal lain yang kutemui, para ibu disini mayoritas dapat mengendarai mobil, menyetir maksudku. Keahlian menyetir diperlukan untuk berbelanja, menjemput anak, dan melakukan aktivitas lainnya. Selain itu, mayoritas keluarga disini tidak memiliki servant (pembantu rumah tangga), karena harganya yang wuihhh mahal pisan… hanya wealth family yang mampu menyediakan, itu pun biasanya pembantu tidak stay at home, tetapi pulang-pergi dan pembantu tersebut bukanlah pekerja yang didatangkan dari negara lain tapi local product dalam negeri (Korean).

Umur rata-rata wanita Korea menentukan hidupnya, untuk menikah atau tidak adalah di masa-masa 27 tahun sampai 29 tahun. Hal yang membedakan antara wanita menikah dengan mereka yang memilih tidak menikah. Umumnya para wanita Korea yang memilih menikah, dapat dikatakan sudah menisbatkan hidupnya untuk keluarga, konsekuensi terbesar adalah tanpa pembantu, ia harus siap menjalani aktivitas rumah tangga, melakukan household, dan membesarkan putra-putrinya. Budaya pria Korea dahulu dan sekarang sudah cukup berbeda, dahulu, para suami tidak mau membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mereka berpikir, itu adalah tugas sepenuhnya sang istri. Namun saat ini, sediki-sedikit mulai berubah, walaupun masih banyak ditemukan situasi seperti pemikiran diatas, sehingga dapat dibayangkan tanggung jawab yang dipikul seorang istri di Korea. Syukurlah di Indonesia pemikiran seperti ini tidak mendominasi pemikiran para pria, banyak kutemui para bapak, membantu istrinya memandikan anak mereka, mencuci piring sisa makanan, dan hal lainnya.
Dari segi pendidikan, para ajumma saat ini mayoritas berpendidikan S1, bahkan tak jarang ku temui para ajumma yang telah menyandang gelar S2 dan melanjutkan ke S3. Apakah mereka dosen? Bukan, mereka hanya wanita yang menikah dan tetap bekerja menjalankan karirnya.

Bagi ajumma yang kujelaskan diatas, dapat terlihat bahwa potensi seorang wanita tidak berakhir sesaat mereka berkeluarga. Namun, banyak juga kutemui, para ajumma tidak memiliki informasi yang lebih terhadap kondisi diluar Korea dan terhadap multikultur yang saat ini ada. Lihat saja saat mereka bertemu dengan orang asing, banyak kutemui sebagian besar mereka takjub melihat perbedaan yang ada pada orang asing, baik itu perbedaan wajah, tinggi badan, bahasa, maupun perbedaan style dalam berpakaian. Hal yang kurang nyaman bagi orang asing di Korea (khususnya yang bukan di kota besar), ajumma akan melihat perbedaan tersebut, dimulai dari ujung rambut, hingga ujung kaki, bahkan tak jarang saat orang asing tersebut sudah berlalu, ajumma masih saja melihat dengan takjub ke arahnya.

Dalam kondisiku sebagai “orang asing” (aih gaya betul, dan bukan bule pastinya), ajumma tidak segan-segan untuk diam, berhenti sejenak, mendekat ke arahku, dan duduk disampingku, hanya untuk menanyakan style berpakaian.
Dimulai dari pertanyaan ini apa? untuk apa? dari mana? setiap hari seperti ini?
Empat pertanyaan ini termasuk dalam empat pertanyaan terfavorit yang kerap kali ditanyakan.

“Ah, ini dia waktuku memperkenalkan Islam kepada wanita disini,” inilah yang selalu muncul di benakku dan membuatku tidak bosan saat pertanyaan-pertanyaan diatas menghampiri. Ada pertanyaan favorit tambahan jika musim panas (여름) tiba, yaitu “itu kan panas! kenapa musim panas seperti ini menggunakan pakaian seperti itu?”.
Lagi-lagi aku mulai dengan tersenyum, dan berkata, “tidak apa-apa (괜찮아요)” , jika sang ibu mendekat, duduk, dan bertanya lebih jauh barulah kujelaskan hal-hal sederhana.

Itulah para wanita disini, AJUMMA, mereka memiliki banyak sekali kelebihan, namun disisi lain, mereka pun masih minim dari sisi informasi, terlebih lagi terkait dengan multikultur, dalam hal ini kehadiran Islam dan para pemeluknya. Menjadi daya tarik tersendiri untuk mengambil pelajaran baik dari para ajumma di sini dan lebih ‘mendekat’ kepada mereka.

” Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Hal itu agar mereka lebih mudah dikenal dan karena itu mereka tidak diganggu”
(Q. Al-Ahzab: 59)

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: