Alien Card dan teman-temannya

May 1, 2009 at 5:37 am | Posted in Uncategorized | 4 Comments

Author: Dita Ade Susanti

Alien registration card adalah KTP diperuntukkan bagi orang asing, selama anda berada di Korea.
Hal-hal yang dibutuhkan saat ingin membuat Alien Card:

  1. Passport
  2. Pas Foto 3X4
  3. Mengisi formulir pendaftaran
  4. Enrollment dari universitas jika kita berstatus mahasiswa
  5. Surat keterangan dari pabrik/kantor jika kita berstatus sebagai pekerja
  6. Silakan menunggu 2 – 3minggu hingga kepengurusan selesai

 
Pembuatan alien card, biasanya akan dibantu oleh pihak universitas ataupun pihak kantor, jadi akan lebih baik, sesampainya kita di Korea, segera mengurus pembuatan alien card ini, mengingat jika selama 1 bulan alien registration belum juga kita punya, maka kita berstatus ilegal di Korea.

Hal-hal yang dibutuhkan saat ingin membuka rekening di Bank Korea:

  1. Membawa aliend registration card,
  2. Membawa passport,
  3. Mengisi formulir pembukaan rekening.

akan lebih mudah jika kita ditemani oleh teman Korea/perwakilan dari pabrik saat mengurus pembukaan rekening ini, karena umumnya di beberapa bank, mereka menyediakan karyawan yang dapat berkomunikasi dalam bahasa inggris.

Point Card:
Point card di Korea berfungsi seperti after-sales service untuk customer. Jika di Indonesia kita mengenal voucher belanja, undian, dan sebagainya, tetapi di Korea, setiap tempat belanja menyediakan point card secara gratis kepada member untuk mengajak customer kembali berbelanja di sana.

Penggunaannya:
Setiap berbelanja, sebelum membayar, berikan point card yang anda punya kepada cashier. Point akan bertambah berbanding lurus dengan jumlah pengeluaran yang anda lakukan untuk berbelanja, sebagai contoh, berbelanja sekitar 8000 KRW, kita akan mendapat tambahan 40 point, dan berbelanja kisaran 12,000 KRW kita akan memperoleh 60 point. Point-point ini merupakan jumlah won yang kita tabung, sehingga jika suatu saat kita ingin menggunakan point yang kita miliki untuk membayar, maka katakanlah sebelum anda membayar bahwa anda ingin menggunakan point card anda.

Cara membuat point card:
Untuk beberapa pusat belanja seperti LOTTE, E-MART, Shinsegae, anda dapat menuju counter informasi dan anda dapat membuat member card anda dengan sebelumnya mengisi formulir yang disediakan. Jangan lupa nomor alien registration anda dan nomor hp (jika punya).

Merindu Kue Pukis

May 1, 2009 at 5:28 am | Posted in Uncategorized | 1 Comment

Author: Wanti Utami

Tinggal di rantau dengan beberapa keterbatasan terkadang menjadikan kita lebih kreatif. Termasuk dalam hal masak-memasak. Seringkali ketika kita mau memasak terbentur dengan tidak adanya peralatan. Mau membeli, belum tentu barang yang kita perlukan ada atau juga barangnya ada tetapi uangnya nggak ada 😦 Kalaupun ada dua-duanya (barang dan uang), rasanya sayang juga kalau tidak terlalu penting sementara kita tidak seterusnya tinggal disini. Belum lagi kalau sewa rumah nggak bisa diperpanjang atau ingin ada suasana baru 🙂
Pindah dengan barang-barang yang banyak tentunya merepotkan. Apalagi jasa pindahan disini terbilang mahal, ada yang bilang 600 ribu won itu menggunakan pick up. Makanya orang Korea kalau pindah rumah sering membuang barang-barangnya. Entah kenapa orang Korea seringkali berpindah rumah. Di pinggir jalan sering terlihat banyak tumpukan barang yang masih layak pakai, buangan orang yang mau pindah rumah dan orang-orang yang sudah bosan dengan barangnya. Orang Indonesia, termasuk saya 🙂 tidak perlu repot beli lemari, rak buku, meja, dll karena bisa ngambil gratis 😀
Jadi, memanfaatkan peralatan seadanya itu adalah pilihan yang terbaik.

Kali ini anakku kangen dengan pukis, sudah lama nggak makan pukis. ‘”Ayo Mi bikin pukis,” katanya. Terkadang memang ada rasa kangen dengan makanan-makanan Indonesia, yang besar aja kangen apalagi anak-anak. Wajarlah 🙂
Gimana ya? Kita nggak punya cetakan. Akhirnya kita coba pakai wajan teflon, karena wajan teflon yang lebar tentunya lebih lama matangnya. Jadi buatnya gak bisa terlalu tebal. Gak apa2 yang penting rasanya pukis. Masalah peralatan memasak sudah.
Masalah berikutnya adalah bagaimana menakar bahan-bahannya tanpa ada timbangan. Jangan khawatir. Kita bisa manfaatkan gelas sebagai pengganti timbangan. Berikut hasil konversi berat dengan gelas.

1 cup = 200 cc air = 125 gr tepung = 200 gr gula.

Sekarang dimulai yuk masak-masaknya. Kebetulan semua bahan sudah tersedia di rumah. Jadi tinggal masuk-masukkan bahan, tunggu, selesai deh. Sekalian jadi program cooking class-nya anak. 😀

Bahan-bahannya (Resep diambil dari Femina edisi oktober 2005):
– 6 kuning telur
– 2 putih telur
– 120 gr gula pasir (resep asli 100 gr ~gula korea kurang manis dibanding gula Indonesia)
– 350 gr tepung terigu
– 150 gr mentega cair
– 500 ml santan hangat
– 1 sdt ragi instan
– ½ sdt baking powder

Cara membuat :
1. Kocok kuning telur, putih telur, gula hingga mengembang.
2. Masukkan tepung terigu, tambahkan ragi, santan kemudian aduk rata
3. Diamkan minimal 30 menit, kemudian masukkan mentega cair.
4. Panaskan cetakan, tuangkan adonan. Bisa ditambahkan coklat, keju,kacang sesuai selera
5. Panggang dengan api kecil hingga matang

Catatan:
Di resep asli tidak disebutkan baking powder. Saya pernah mencoba membuat terang bulan (martabak manis) tanpa baking powder ternyata adonan tidak bisa mengembang.
Untuk menghindari adonan cepat gosong (karena tidak memakai cetakan pukis), bisa disiasati dengan membuat adonan yang tidak terlalu manis kemudian diberi taburan gula diatasnya ketika adonan setengah matang).

Tambahan tips memasak:
Tips mengukus: kalau tidak ada panci untuk mengukus bisa menggunakan panci biasa. Untuk sarangan bisa menggunakan saringan untuk minyak yang banyak dijual di toko seribuan. Saringan ini bisa juga kita gunakan untuk naruh buah atau sayur yang habis dicuci biar airnya bisa netes. Praktis kan? Satu alat bisa dipakai untuk beberapa fungsi.

Nah, yang belum ketemu adalah tips untuk meng-oven roti tanpa microwave, bisa nggak pakai magic jar? Gimana caranya ya? Mohon sharingnya… 😀

Me and ‘Ajumma’

May 1, 2009 at 5:19 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Author: Dita Ade Susanti

Sedikit cerita tentang the most wanted person in Korea: Ajumma 😀

Sebelum berlanjut, siapakah ajumma ini?
Apa itu ajumma?

Ajumma (아줌마), dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “ibu-ibu” dan dalam bahasa inggris diartikan sebagai aunty. Namun jika kita ingin memanggil sang ibu-ibu, bukanlah dengan menyebutnya Ajumma, tapi dapat dilembutkan dengan AJUMEONI (아주머니) atau IMO (이모).
Ajumma di Korea, khususnya di daerahku cukup banyak, selain banyak pula kakek dan nenek :p tapi jangan sangka, para ajumma di sini sangatlah menjaga penampilan dan terpenting adalah berat badan, jadi tidak heran kalau ibu-ibu disini langsing bin slim. 😀

Hal lain yang kutemui, para ibu disini mayoritas dapat mengendarai mobil, menyetir maksudku. Keahlian menyetir diperlukan untuk berbelanja, menjemput anak, dan melakukan aktivitas lainnya. Selain itu, mayoritas keluarga disini tidak memiliki servant (pembantu rumah tangga), karena harganya yang wuihhh mahal pisan… hanya wealth family yang mampu menyediakan, itu pun biasanya pembantu tidak stay at home, tetapi pulang-pergi dan pembantu tersebut bukanlah pekerja yang didatangkan dari negara lain tapi local product dalam negeri (Korean).

Umur rata-rata wanita Korea menentukan hidupnya, untuk menikah atau tidak adalah di masa-masa 27 tahun sampai 29 tahun. Hal yang membedakan antara wanita menikah dengan mereka yang memilih tidak menikah. Umumnya para wanita Korea yang memilih menikah, dapat dikatakan sudah menisbatkan hidupnya untuk keluarga, konsekuensi terbesar adalah tanpa pembantu, ia harus siap menjalani aktivitas rumah tangga, melakukan household, dan membesarkan putra-putrinya. Budaya pria Korea dahulu dan sekarang sudah cukup berbeda, dahulu, para suami tidak mau membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mereka berpikir, itu adalah tugas sepenuhnya sang istri. Namun saat ini, sediki-sedikit mulai berubah, walaupun masih banyak ditemukan situasi seperti pemikiran diatas, sehingga dapat dibayangkan tanggung jawab yang dipikul seorang istri di Korea. Syukurlah di Indonesia pemikiran seperti ini tidak mendominasi pemikiran para pria, banyak kutemui para bapak, membantu istrinya memandikan anak mereka, mencuci piring sisa makanan, dan hal lainnya.
Dari segi pendidikan, para ajumma saat ini mayoritas berpendidikan S1, bahkan tak jarang ku temui para ajumma yang telah menyandang gelar S2 dan melanjutkan ke S3. Apakah mereka dosen? Bukan, mereka hanya wanita yang menikah dan tetap bekerja menjalankan karirnya.

Bagi ajumma yang kujelaskan diatas, dapat terlihat bahwa potensi seorang wanita tidak berakhir sesaat mereka berkeluarga. Namun, banyak juga kutemui, para ajumma tidak memiliki informasi yang lebih terhadap kondisi diluar Korea dan terhadap multikultur yang saat ini ada. Lihat saja saat mereka bertemu dengan orang asing, banyak kutemui sebagian besar mereka takjub melihat perbedaan yang ada pada orang asing, baik itu perbedaan wajah, tinggi badan, bahasa, maupun perbedaan style dalam berpakaian. Hal yang kurang nyaman bagi orang asing di Korea (khususnya yang bukan di kota besar), ajumma akan melihat perbedaan tersebut, dimulai dari ujung rambut, hingga ujung kaki, bahkan tak jarang saat orang asing tersebut sudah berlalu, ajumma masih saja melihat dengan takjub ke arahnya.

Dalam kondisiku sebagai “orang asing” (aih gaya betul, dan bukan bule pastinya), ajumma tidak segan-segan untuk diam, berhenti sejenak, mendekat ke arahku, dan duduk disampingku, hanya untuk menanyakan style berpakaian.
Dimulai dari pertanyaan ini apa? untuk apa? dari mana? setiap hari seperti ini?
Empat pertanyaan ini termasuk dalam empat pertanyaan terfavorit yang kerap kali ditanyakan.

“Ah, ini dia waktuku memperkenalkan Islam kepada wanita disini,” inilah yang selalu muncul di benakku dan membuatku tidak bosan saat pertanyaan-pertanyaan diatas menghampiri. Ada pertanyaan favorit tambahan jika musim panas (여름) tiba, yaitu “itu kan panas! kenapa musim panas seperti ini menggunakan pakaian seperti itu?”.
Lagi-lagi aku mulai dengan tersenyum, dan berkata, “tidak apa-apa (괜찮아요)” , jika sang ibu mendekat, duduk, dan bertanya lebih jauh barulah kujelaskan hal-hal sederhana.

Itulah para wanita disini, AJUMMA, mereka memiliki banyak sekali kelebihan, namun disisi lain, mereka pun masih minim dari sisi informasi, terlebih lagi terkait dengan multikultur, dalam hal ini kehadiran Islam dan para pemeluknya. Menjadi daya tarik tersendiri untuk mengambil pelajaran baik dari para ajumma di sini dan lebih ‘mendekat’ kepada mereka.

” Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Hal itu agar mereka lebih mudah dikenal dan karena itu mereka tidak diganggu”
(Q. Al-Ahzab: 59)

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.